Global Lombok, Lombok Tengah - Maraknya kejadian keracunan, ditemukannya kotoran, ulat hingga makanan basi pada Makanan Bergizi Gratis (MBG) membuat ketua Komunitas Pejuang Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Nusa Tenggara Barat (KODE HAM-NTB), Ali Wardhana angkat suara.
Menurutnya, pihak pengelola dapur terutama yayasan yang menaungi tidak bisa disalahkan sendiri, akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kompetensi ahli gizi yang notabene memiliki peran sangat penting dalam penentuan menu dan kualitas makanan yang akan diberikan kepada siswa.
Menurutnya persoalan ini bukan hal sederhana karena menyangkut kesehatan dan mengancam nyawa siswa sekolah. Sehingga yang ahli gizi yang bisa dikatakan sebagai ujung tombak kualitas makanan harus dievaluasi.
"Menurut kami salah satu persoalan utama adalah kompetensi ahli gizi yang belum memadai," ungkap pria yang akrab disapa AW ini.
"Saya berharap para Ahli Gizi ini dipikirkan serius, sepertinya rekrutmennya harus diulang melalui Dinas Kesehatan Lombok Tengah," sambung dia
Selain itu, dia juga mengemukakan kemungkinan yang menjadi penyebab terjadinya sejumlah kasus itu adalah karena faktor lingkungan. Bayangkan saja, lanjut dia, per hari bertumpuk-tumpuk sampah yang dihasilkan dari sisa masakan dan olahan di Dapur MBG. Tentunya banyak mengandung bakteri jahat karena sampah tersebut belum jelas dibuang kemana.
"Kami mendukung Dinas Kesehatan Lombok Tengah dalam upaya investigasi ini dan kami akan ikut mendampingi Dinas Kesehatan dalam upaya ini," tegas Ali mendukung upaya Dikes Loteng yang akan melakukan investigasi di sejumlah dapur BGN.
Lebih jauh, Ali mengatakan bahwa yang perlu diperhatikan, menurut data yang diperoleh bahwa semua dapur di Lombok Tengah belum memiliki Sertifikat Laik Hygiene Sanitase (SLHS).
"Ini mestinya sudah diajukan sebelum beroperasi kepada Dinas Kesehatan Lombok Tengah," tukasnya.
Sebab, menurutnya aturan itu seharusnya berlaku untuk semua kalangan. Seperti dicontohkan bahwa rumah makan yang porsinya 500 per hari saja harus ber-SLHS. Sementara rata-rata sasaran dapur MBG oleh BGN ini mencapai 3000-an orang pe hari.
"Ini gak bisa dibiarkan begitu saja. Benar ini adalah program pusat tetapi jika akan merusak generasi anak bangsa ini, maka harus ditindak," pungkas AW. (*)

Komentar0